LadyBird Journal – Birdies, kalian udah ngga asing kan dengan MBTI personalities? Sebuah teori yang mengklasifikasikan umat manusia menjadi enam belas tipe. Katanya, tipe MBTI bisa mempengaruhi dinamika hubungan antar individu loh. Teori kecocokan berdasarkan MBTI melihat persamaan maupun perbedaan nilai dan sifat yang dimiliki individu yang berbeda tipe MBTInya. Apa nilai dan sifat tersebut saling melengkapi atau malah menjadi masalah.

 

Mungkin Birdies jadi bertanya-tanya, seberapa benar sih teori ini? Well, saya cuma bisa menjawab dengan pengalaman saya sendiri ya. Berikut adalah pengalaman saya sebagai MBTI INFP yang mencoba validasi teori kecocokan berdasarkan MBTI ini.

 

  • INFP dan ENFJ

Teori kecocokan individu berdasarkan MBTI pertama yang saya uji adalah dengan ENFJ. Cari saja di Google “natural partner INFP”. Pasti ENFJ-lah hasilnya. Maksudnya natural partner apa? Intinya, saya nggak perlu bersusah payah mencoba cocok dengan tipe ENFJ ini, sudah natural aja nyambungnya. Dalam hidup saya, ada dua orang ENFJ yang saya kenal dan surprise, surprise saya memang merasa sangat cocok dengan mereka.

Saya agak skeptis sebenarnya, karena ENFJ kan memang dikenal sebagai individu kharismatik yang disenangi dan mudah cocok dengan semua orang. Jadi bisa aja kan perasaan cocoknya hanya searah dari saya *sad*. Jadi, saya akhirnya validasi ke salah satu ENFJ yang dekat dengan saya. Long story short, menurutnya, teori ini cukup valid karena dia pun merasa tingkat kecocokannya dengan saya sedikit diatas dengan orang-orang lain yang saya coba compare.

 

  • INFP dan ESFJ

Beda satu huruf nih sama sebelumnya. Menurut situs yang sama*, ESFJ merupakan pilihan kedua sebagai natural partner saya. Faktanya di lapangan? Saya hanya mengenal satu ESFJ di hidup saya. Kami baru kenal Januari lalu, tapi becandanya sudah seperti teman masa SMA. Pembahasan obrolan mulai dari yang sifatnya edukatif sampai sampahatif alias nggak berfaedah. Saya merasa dapat berkomunikasi dengan jujur dan mudah dengan ESFJ ini. Jadi untuk saya, teori ini juga valid. Walaupun mungkin lagi-lagi hanya searah sifatnya (yang ini saya belum sempat validasi ke orangnya langsung tapi positif valid sih sepertinya *lol*).

 

  • INFP dan INTJ

Di sekitar saya, ada empat INTJ yang saya kenal. Dan saya suka dengan mereka semua. Pada beberapa hal, INTJ mengingatkan saya akan diri saya sendiri. Sama-sama private, tidak mengikuti standar sosial yang mainstream, dan cukup idealis. Bedanya, INTJ jauh lebih intelek dari saya. Dan saya sangat mengagumi hal tersebut dari mereka. Namun kadang, ke-intelekan INTJ membuat saya stres sendiri karena takut akan judgement mereka.

Salah satu hal valid lainnya yang dinyatakan dari dinamika INFP dan INTJ adalah kelambanan saya dalam memutuskan atau melakukan sesuatu yang kadang menguji kesabaran INTJ. Berbeda dengan INTJ yang tipenya praktikal, INFP banyak menimbang faktor ketika memutuskan sesuatu.

 

  • INFP dan INFJ

Singkat saja ya, ketika saya googling INFP-INFJ dynamic, artikel pertama yang muncul judulnya “Here is a look at the INFP/INFJ dynamic and 6 reasons why they can mesh well as both friends and lovers.” Lalu seberapa benar teori ini? Buat saya sih sudah sangat valid (untuk bagian teman ya). Salah satu teman terdekat saya sejak SMA adalah INFJ, kalau dihitung, kami sudah berteman lebih dari 7 tahun! INFJ saya selalu ada di saat terburuk. Bukan hanya untuk menghibur, kadang juga mencaci maki saya jika saya mulai ngaco. Yep. Valid.

 

  • INFP dan ISFJ

Sedikit banyak mirip dengan INFJ *lol*

 

  • INFP dan ISTJ

Teorinya? Ngga cocok. Nyatanya, hmm ya sedikitlah. Mungkin masalahnya karena INFP dan ISTJ sama-sama kurang bisa mengerti cara pikir atau pandangan masing-masing. Tapi bukan berarti saya tidak suka dengan ISTJ. Hanya saja, cara berkomunikasi yang berbeda kadang membuat kurang cocok.

 

  • INFP dan ENFP

Pada teori MBTI, INFP cukup sering disalahpersepsikan dengan ENFP. Memang, kalau mood saya sedang hyper, saya merasa mirip dengan ENFP (emosional dan terkesan lovey dovey). Namun, tidak begitu seringlah. Dinamika kami diteorikan sebagai hubungan yang cukup harmonis karena memiliki nilai hidup yang cukup sama. Hanya saja ENFP biasanya lebih outgoing dari saya (jelas, kan extrovert).

Di hidup saya, ada 2 orang ENFP yang dekat. Sekali lagi, ini benar. Kami cocok, walaupun tidak secocok dengan ENFJ atau ESFJ. Tapi paling tidak kami saling mengerti satu sama lainnya. Gampangnya, kalau ketemu, ya kami bisa ngobrol banyak hal, tapi kalau tidak bertemu, belum tentu ada inisiasi untuk berkomunikasi.

 

Kesimpulannya? Setiap individu – apapun tipe MBTI nya pastilah bisa memiliki hubungan yang baik. Cocok atau nggak cocok bisa dikalahkan dengan pilihan kita. Namun, nggak bisa dipungkiri, bagi saya pribadi sih nyatanya memang kecocokan berdasarkan MBTI juga mempengaruhi dinamika hubungan dengan individu lain. Dengan tahu MBTI orang lain, kita bisa berusaha mengerti, menoleransi, maupun menghadapi tindakan individu lain. Jadi, nggak ada salahnya cari tahu MBTI orang lain sebelum judging karakternya.

*Sumber: The Personality Page

Author

Simply Complicated ;)

Leave a Reply