“Hah? Anak perempuan kuliahnya jauh amat dari orang tua”, “Sekolahnya jauh sekali, padahal di Indonesia juga ada sekolah bisnis”, “Kamu anak tunggal? Kok orang tuanya hebat ngelepasin anak perempuan tunggal ke Amerika?”

Tiga kalimat di atas adalah kalimat yang paling saya dengar setiap orang tanya kenapa saya kuliah di Amerika. Jadi begini perjalanannya, saat saya kelas 11, saya mendapatkan gelar Certificate of Secondary Education. Setelah saya mendapatkan gelarnya saya langsung terbang ke United States seminggu setelah saya ulang tahun ke 17. Untuk kepentingan sharing ini, saya akan bercerita terlebih dahulu tentang pengalaman saya di Seattle yang terletak di Northwest Amerika.

 

Berangkat Kuliah Ke Seattle

Di musim semi 2013 saya touch down di Seattle. Kalau kalian suka minum kopi yang logonya putri duyung, nah kota ini adalah kota originalnya. Bisa di bilang mirip seperti Bogor yang kerjaannya hujan dan tidak butuh AC karena selalu adem saat musim panas. Untuk pertama kalinya, saya tinggal jauh tanpa orang tua dan punya teman, berbekal english sekelas lulusan tempat les bahasa Inggris kondang di Jakarta, dan 2 koper besar.

Di Seattle, saya tinggal bersama Host Parents, yaitu sepasang suami istri yang memiliki extra kamar, dan bersedia menampung dan mengasuh saya. Rumahnya beda sekali dengan jenis rumah di Indonesia. Rumahnya 2 lantai, tapi bukan tinggi ke atas tapi malah 1 lantai setara tanah dan basement. Syukur Alhamdulillah, saya mendapatkan host parents yang terbaik. Mereka adalah Chinese-American yang jago masak segala jenis makanan Asia dan selalu hosting pelajar dari Indonesia. Makanan favorite saya buatan mereka adalah Singaporean prawn dan banana bread.

 

Open-minded Seattleites

Kuliah saya terletak di kota ter-Gay nomor 2 di Amerika setelah daerah Castro di San Fransisco (tenang, jangan kaget atau mengira saya mendiskriminasi, karena ranking ini adalah achievement untuk masyarakat Seattle.) Tidak butuh waktu lama untuk saya jatuh cinta kepada Seattle. Memang, saya sempat merengek nangis karena homesick tapi perasaan itu hilang sekejap. Saya jatuh cinta akan makanan-makanan yang ada di pasar ikan yang bernama Pike Place Fish Market. Di market ini ada toko kopi “putri duyung” pertama loh. Dari cheesecake greek yogurt milik Ellenos, Pike Place Chowder yang terkenal sekali, sampai ke macaroon di Le Panier. Saya pada dasarnya bisa menlist makanan makanan di Pike Place Market sambil membayangkan kenikmatannya.

 

 

Masyarakat Seattle itu biasa disebut Seattleites. Mereka benar-benar mengajarkan saya untuk tidak judge people by their cover. Disana, orang-orangnya sangat diverse dari berbagai belahan negara dan background, beda sekali sama Indonesia. Saya belajar untuk lebih fokus atas kebaikan seseorang bukan karena jalur hidup yang mereka pilih. Mereka sangat respect dan open-minded terhadap komunitas yang berbeda ideology dengan mereka (kecuali kalau ideologynya negative ya seperti menjadi rasis atau diskriminatif.)

 

Mereka baik-baik banget semua. Well, basically orang Amerika itu umumnya individualis tapi saling membantu. Mereka original dan punya gaya nya tersendiri. Banyak sekali yang namanya thrift shops. Mungkin bisa dibilang Seattleites hipster sekali dan mempunyai healthy lifestyle. Disana, hipster dan healthy lifestyle bisa dibilang cukup berkorelasi.

 

Transportasi Nyaman Di Seattle

 

transportasi Seattle
Transportasi Seattle

Transportasi umum di Seattle tuh sudah maju sekali. Biaya naik kereta dari pusat kota ke bandara sama seperti naik bus dalam kota. Kalau udaranya lagi enak, yaitu adem dan bermatahari, saya suka jalan kaki dari apartment saya ke sekolah atau bahkan ke pusat kota. Di sana, menjadi pejalan kaki sangatlah nyaman, beda sekali seperti jalan kaki di ibukota tercinta kita Jakarta deh yang isinya sudah ojek ngetem dan abang abang gorengan semua.

 

Apabila suatu saat nanti saya bisa berkesempatan ke Amerika lagi, saya pasti akan kembali ke Seattle karena kota ini, karena mengenal seattle telah merubah saya menjadi pribadi yang open-minded.

Author

To travel is to conquer the world

Leave a Reply