Kerja Bagai Tapi Tetap Bahagia. Memang Bisa?

LadyBird Journal – Untuk para Birdies yang sudah bekerja, Saya penasaran, kalian kerjanya seperti apa. Kira-kira kondisi di bawah ini cukup mewakili nggak?

 

Jam kerja di kontrak pukul 08.00-17.00 namun pada kenyataannya sampai jam 21.00 pun kalian masih di depan laptop

Baru bisa bernapas saat jam istirahat, sisanya harus fokus sepanjang saat dalam lima hari kerja

Saat weekend pun kalian tetap di chat ‘orang kantor’ tentang target A, B, C

Ketika sudah memiliki target mingguan, tetiba ada kerjaan tambahan yang ternyata eh ternyata makan waktu banyak juga untuk mengerjakannya

 

Kalau iya, menurut Saya bisa ada dua penyebabnya. Penyebab pertama, bisa jadi faktornya karena cara kerja kalian belum efektif dan efisien. Kalau menurut kalian ini masalahnya, kalian bisa baca artikel berikut ini supaya kerja kalian lebih produktif meski tanpa lembur. Namun kalau alasannya memang karena load kurang manusiawi (dan belum atau memang tidak bisa menambah orang yang mengerjakan), ada beberapa hal yang harus kalian ingat dan lakukan supaya kalian tetap bahagia dalam menjalani rutinitas tersebut:

 

1. Jangan terlalu dipikirin dan dibawa serius

Setuju banget kalau kita harus selalu profesional dalam bekerja. Tapi menurut saya, profesional tidak sama dengan harus selalu serius. Karena kerja mengambil porsi yang besar dalam hidup kita, sangat penting untuk menjaga lingkungannya dengan hal yang nggak terlalu serius dan tetap fun supaya nggak stres.

 

Apalagi ketika kita masih dalam masa belajar, jangan sampai terlalu serius dan mikir banget. Kenapa? Kalau dari pengalaman pribadi, kebanyakan dipikirin nggak akan menyelesaikan masalah. Justru kita perlu eksperimentasi dan mengalami sendiri kayak gimana gagal atau kurang berhasilnya suatu output dari proses kerja.

 

Contohnya nih, pernah nggak kamu berpikir mau melakukan hal A untuk menyelesaikan pekerjaan, tapi takut outputnya jelek? Terus kepikiran pake opsi B, tapi khawatir bentrok dengan hal lain. Intinya, terlalu serius dan mikirin risiko yang dapat terjadi sehingga ujungnya cari cara paling aman aja buat menyelesaikan masalah. Padahal penting banget mengeksplor cara-cara baru biar bisa terus improvement.

 

Ketika terlalu serius dan nggak rileks juga nanti bisa membuat kita mikirnya jadi kurang kreatif. Sehingga mengurangi kreativitas dan keberanian dalam eksplorasi kemampuan maupun cara bekerja.

 

Jadi intinya, dipikirin boleh, tapi jangan berlebihan. Nggak usah terlalu takut dalam melakukan kesalahan, itu bagian dari proses belajar yang sangat berharga.

 

2. Coba mulai bangun relationship di luar kerjaan dengan rekan kerja

Kenapa menurut saya ini perlu? Lagi, bekerja itu kan minimal menghabiskan delapan jam waktumu dalam lima hari. Kalau kamu menghabiskan delapan jam tersebut tanpa interaksi sosial yang memadai, bisa repot juga ya kan.

 

Memadai disini maksudnya gimana? Minimal kamu tau rekan kerjamu tinggalnya dimana. Dan ketika makan siang, obrolannya nggak sebatas kerjaan yang harus kelar minggu itu dan bisa sedikit haha hihi-lah.

 

Terus gimana kalau merasa nggak nyambung sama rekan kerja? Saya berdoa semoga nggak kaya gini ya keadaanya ketika Birdies mencoba PDKT pertemanan dengan mereka. Cuma kalau memang begitu adanya, lempeng ajalah.

 

Toh niat kamu kan baik, ingin membuat lingkungan pekerjaan yang bagai kuda menjadi lebih nyaman. Jadi, deketin aja terus. Minimal pancing obrolan dengan apa yang sedang jadi topik hangat di khalayak.

 

Kalau sudah memiliki hubungan pertemanan dengan orang kantor, kerjamu juga lebih nyaman kan? Lebih nyaman ketika ingin meminta tolong, ketika berdiskusi, dan ketika harus lembur bareng.

 

3. Meluangkan waktu untuk melakukan hal yang disukai

Mungkin kalian berpikir, ‘kerjaan sudah segunung, masa harus meluangkan waktu untuk hal lain lagi? Nggak sempet. Dan mending waktunya dipakai tidur.’

 

Well, hidup memang pilihan. Kalau menurut kalian begitu, nggak ada yang salah. Tiap orang kan punya caranya masing-masing dalam me-recharge tenaga. Kalau tidur menjadi best practice kamu, silahkan.

 

Tapi, mungkin saya membagi sedikit pengalaman saja ya. Saya pernah melakukan keduanya; mengisi waktu untuk tidur sebagai cara re-charge tenaga dan mengisi waktu dengan hal yang saya sukai. Dalam hal ini, membaca dan menulis.

 

Dan, jujur saya merasa berbeda. Mengambil waktu untuk hal saya suka ibarat memiliki waktu rekreasi tersendiri. Seperti waktu time-out untuk istirahat dan mengatur strategi kembali.

 

Selain itu juga, saya jadi tetap in-touch dengan diri saya sendiri, menyadari apa kekurangan dan bagaimana untuk memperbaikinya. Bukannya terus menerus panik akan tekanan pekerjaan yang lumayan menguras pikiran.

 

Setelah melakukan hal yang saya sukai, biasanya saya siap diserang deadline lagi, karena sudah ‘semedi’. Oleh karena itu, penting untuk tetap memiliki me-time minimal seminggu sekali untuk diri kita sendiri.

 

4. Cari tahu dampak dari pekerjaan dalam organisasi/perusahaan

Akan ada perbedaan usaha bekerja antara orang yang mengetahui apa dampak pekerjaannya terhadap organisasi dengan yang tidak. Saya tidak mau membuat pernyataan bahwa orang yang tidak mengetahui dampak kerjanya kurang dari yang tahu karena setiap orang kan berbeda.

 

Tapi saya hanya bisa membagi pengalaman pribadi dan rekan kerja sekitar. Seorang teman kantor saya pernah bercerita, sebelumnya dia bekerja bisa mulai jam 10.00 WIB karena waktunya dipakai sarapan dan nonton youtube dulu.

 

Sangat berbeda dengan kondisi sekarang. Dia bisa datang jam 07.30 dan sudah mulai bekerja. Ketika saya tanya apa alasannya, jawabannya mudah. Dia merasa pekerjaannya yang sekarang membawa dampak besar untuk orang lain yang terlibat maupun perusahaan. Dia tau seberapa penting perannya di dalam bisnis proses yang ada. Sehingga muncul rasa ownership terhadap pekerjaannya dan akhirnya pekerjaan bukan lagi dilihat sebagai rutinitas semata.

 

Hal tersebut jugalah yang menurut saya menjadi faktor mengapa dia kerja bagai kuda hingga jam 21.00 disaat sudah memiliki anak dan suami tanpa keluhan atau kerutan di wajahnya. Malah, mungkin lebih sering tertawa. Karena itu, ketika kamu merasa lelah, jangan lupakan dampak pekerjaanmu bagi perusahaan. Percaya bahwa peranmu krusial sehingga biarpun lembur, kamu tetap bahagia karena merasa dampak pekerjaan lemburmu itu besar dan untuk khalayak ramai.

 

Tapi, jika kamu tipe yang kurang peduli dengan khalayak ramai, mungkin bisa cari tahu dampak pekerjaan untuk pengembangan diri kamu. Sehingga kamu semangat terus deh ketika disuruh lembur.

 

5. Istirahat.

Istirahat menjadi hal yang krusial ketika kamu memiliki pekerjaan yang posesif (bukan cuma pasangan saja yang selalu menuntut diperhatikan ya sekarang). Apalagi ketika kamu sudah ada pada titik jenuh, itulah saatnya kamu tutup laptop dan benar-benar istirahat. Sedikit berbeda dengan melakukan hal yang disukai, istirahat ini sifatnya kurang mengacu pada self-growth atau personal development. Istirahat berarti pergi ke salon untuk pijat, beli tiket ke pulau terpencil antah berantah, ke Mall Taman Anggrek main ice skating, tidur, maupun hal lainnya yang minim membutuhkan berpikir.

 

Pergunakan waktu istirahatmu sebaik-baiknya dengan tidak menyinggung pekerjaan sama sekali. Putus hubungan dengan orang kantor satu hari penuh (saat cuti atau weekend ya tapi). Kamu harus tahu kapan pikiran dan badanmu butuh istirahat yang agak panjang. Karena sesungguhnya, pekerjaan yang dilakukan saat stres tidak akan menghasilkan output yang baik juga bukan?

 

Jadi, menjawab judul artikel, memang bisa? Setelah kamu mencoba lima hal diatas, saya doakan bisa. Karena hal-hal tersebutlah yang membantu saya dalam pengalaman pribadi dan han hasil observasi orang-orang terdekat.

 

Referensi:

[1] Pengalaman pribadi

[2] Gambar Stocksy.com

Author

Simply Complicated ;)

Leave a Reply