self-love atau narsis

LadyBird Journal – Seringkali orang tidak bisa melihat beda self-love dan narsis. Bukankah mencintai diri sendiri berarti tidak peduli dengan keadaan orang lain? Dan bukankah tidak pernah memikirkan kekurangan yang ada pada diri sendiri dan selalu berusaha untuk memperbaikinya berarti bahwa orang tersebut hanya peduli pada dirinya sendiri, dan berarti dia narsis?

 

Untuk menjawab pertanyaan itu, terdapat penelitian oleh Tara Well yang bisa kita gunakan untuk mengetahui apa rasa sayang kita pada diri sendiri merupakan bentuk dari self-love atau narsisme. Empat poin tersebut antara lain:

 

Adakah kebutuhan untuk meningkatkan kehebatan diri dan membandingkannya dengan kehebatan orang lain?

Orang dengan self-love yang baik percaya bahwa mereka mempunyai kualitas dan kemampuan yang baik pada diri mereka, dan juga percaya hal yang sama ada pada orang lain. Sebaliknya, cara pikir “yang terbaik” dan kebutuhan untuk orang lain melakukan hal yang lebih tidak baik merupakan hal yang umum ada pada narsisme.  

 

Adakah keinginan untuk terlihat baik, bukan melakukan yang terbaik?

Beda self-love dan narsis yang lainnya adalah orang dengan self-love peduli dengan meningkatkan kemampuan mereka, jadi mereka sangat ingin melakukan yang terbaik pada hal apapun yang mereka lakukan, baik sebagai teman, pasangan maupun dalam hal pekerjaan. Sementara orang dengan narsisme cenderung lebih peduli untuk “terlihat” melakukan peran mereka, dan  tidak menerima kritik untuk hal yang mereka bisa tingkatkan

 

Adakah keinginan untuk validasi dari luar diri?

Keinginan untuk mendapatkan penerimaan dari luar diri (baik dalam bentuk pujian ataupun perhatian) yang berlebihan merupakan hal yang banyak terjadi pada kasus narsisme. Orang dengan self-love menemukan validasi dari dalam diri mereka dan pengetahuan bahwa mereka melakukan hal yang baik.

 

Apakah emosi yang dirasakan dan perilaku yang ditampilkan lebih “hitam putih”?

Penelitian menunjukkan bahwa orang dengan self-love lebih mampu untuk mentolerir pengalaman dan emosi yang lebih “abu-abu”, dan melihat alasan dan hal lain yang mungkin memunculkan pengalaman dan emosi tersebut.  Maksudnya gimana? Jadi, dengan punya self-love, kamu akan lebih bisa pick up subtle feelings dari emosi dan kejadian yang kamu alamin sehari-hari. Jadi nggak selamanya selalu “this is bad” atau “this is good”. Nggak terlalu judgemental lah singkatnya. Mereka dengan self-love juga lebih bisa untuk menerima pengalaman baru dan belajar supaya mereka bisa menjadi lebih baik.

 

Referensi:

[1] Greenberg, M. (2017, 29 Juni). 8 Powerful Steps to Self-Love. Psychology Today

[2] Seppala, E. (2012, 27 November). 3 Powerful Science-Based Benefits of a Little Self-Love. Psychology Today. 

[3] Well, T., (2017, 10 Februari). Is Self-Love Healthy or Narcissistic? Psychology Today.

 

Leave a Reply