LadyBird Journal – Banyak dari kita, baik mahasiswa maupun pekerja, yang berasal dari luar daerah Jabodetabek. Setiap tahunnya, semakin banyak teman-teman kita yang berasal dari luar Jabodetabek datang ke Jakarta dan kota-kota besar lainnya untuk pendidikan lanjutan atau mencari pekerjaan yang lebih baik.

 

Tradisi ini sudah berjalan cukup lama. Seiring dengan berkembangnya akses dan lapangan kerja, jumlah perantau di kota-kota besar juga semakin bertambah. Mungkin Birdies salah satunya? 

 

Faktor Yang Mempengaruhi Kesulitan Merantau

Meski sudah lama terjadi, bukan berarti kita yang merantau tidak mengalami hal-hal yang tidak mengenakan, lho. Banyak dari perantau yang kemudian merasa homesick atau merasa rindu dengan lingkungan tempat asal.

 

Seringkali, perantau juga mengalami kesepian, terutama untuk yang datang ke wilayah yang sama sekali berbeda dari tempat asal mereka dan tidak memiliki banyak teman dari daerah asal yang sama. Selain itu, perantau mungkin mengalami kesulitan dalam beradaptasi di tempat baru, baik dalam hal budaya, kebiasaan, mengatur keuangan, dan juga menjaga kesehatan.

 

Hal tersebut  dikarenakan biaya kehidupan yang mungkin lebih tinggi di wilayah tempat mereka merantau dibandingkan dengan wilayah asal. Cara bersosialisasi dan komunikasi yang mungkin sangat berbeda juga dapat menjadi kesulitan yang cukup mempengaruhi perantau di kota-kota besar.

 

Banyak hal yang mempengaruhi teman-teman perantau untuk mengalami hal-hal tersebut. Diantaranya menjalani kehidupan yang terpisah dari keluarga inti menjadi salah satu faktor penyebab teman-teman perantau untuk menyesuaikan diri.

Terbiasa dengan kebiasaan lama yang membentuk bagaimana cara berkomunikasi dengan orang berlatar belakang sama, perantau bisa merasa kesulitan beradaptasi saat bersosialisasi dengan bermacam tipe orang.

 

Tips untuk Membantu Ketika Bekerja Merantau

Nah, kalau kamu atau teman-teman perantau lainnya sering mengalami hal seperti ini, apa yang bisa kamu lakukan? Berikut beberapa hal yang bisa kamu lakukan. Hal ini bisa kamu lakukan sendiri atau dengan komunitas teman-teman perantau kamu. Kamu juga bisa meminta bantuan lingkaran sosial lain kamu ya, seperti teman kantor maupun teman sepermainan lainnya.

 

1. Belajar Mengelola Keuangan

Sebagai perantau, kebutuhanmu pasti lebih banyak jika dibandingkan dengan teman-teman lain yang memang mempunyai pengalaman dan keluarga di kota tempat kamu merantau. Biaya untuk makanan, hidup, kendaraan, dan sejuta kebutuhan lagi harus kamu selesaikan, ditambah lagi dengan kebutuhan-kebutuhan lagi seperti hiburan.

 

Dengan kebutuhan sebanyak itu, sudah sangat jelas kan kamu perlu mengatur keuanganmu, karena kamu pun butuh untuk menabung demi masa depan. Hal pertama yang bisa kamu lakukan adalah mengetahui sumber-sumber pemasukan. Banyak dari perantau memiliki pekerjaan yang menjadi satu-satunya sumber pemasukan mereka.

 

Namun, hal-hal seperti hasil dari usaha sampingan dan kiriman uang dari orang tua dan anggota keluarga bisa menjadi sumber lain. Selain itu, kamu bisa mencatat hal-hal apa saja yang menjadi pengeluaranmu sehari-hari, seperti makanan, biaya sewa dan listrik dan biaya sosial. Dari informasi tersebut, kamu bisa membuat perencanaan keuangan di setiap bulan dan membuat catatan pengeluaran setiap harinya.

 

Kamu juga bisa membuat tabungan darurat tertentu untuk menutupi keadaan-keadaan darurat tertentu misalnya masalah kesehatan atau keuangan yang harus langsung diselesaikan.

 

2. Belajar Mengelola Kesehatan

Ketika merantau, kamu dituntut untuk mandiri karena jauh dari keluarga. Nggak seperti di rumah, ketika sakit di perantauan kamu harus bisa mengurus diri sendiri. Oleh karena itu, penting untuk belajar menjaga kesehatan. Kebayang kan kalau sudah sakit, repot untuk mengurus dan membuat kita nggak produktif melakukan pekerjaan juga.

 

Apalagi, kesehatan fisik yang terganggu dapat mempengaruhi kesehatan mental seseorang juga loh. Misalnya, berat badan dapat mempengaruhi citra diri seseorang, atau kelelahan karena kurangnya tidur dapat mempengaruhi produktivitas seseorang dan kondisi psikologis seseorang.

 

Kamu bisa memulai untuk membuat beberapa waktu sendiri untuk beristirahat. Mengelola kesehatan juga berarti memperhatikan makanan dan minuman yang kamu konsumsi, menjauhkan diri dari hal-hal yang berpotensi negatif seperti rokok dan berolahraga dengan teratur.

 

Kamu bisa memulai dengan membuat perencanaan makanan dan membuat waktu untuk berolahraga tiap minggunya.

 

3. Menemukan Lingkaran Pertemanan Yang Sesuai

Banyak dari perantau mengalami kesepian karena ketatnya jadwal untuk pekerjaan. Bicara dengan teman bisa membantu kamu mengurangi tingkat stress yang dialami perantau dan membantu mereka untuk beradaptasi dengan lingkungan baru.

 

Terlebih jika teman tersebut mempunyai latar belakang budaya yang sama. Kamu bisa mulai mencari teman-teman baru untuk memperluas pengetahuan dan juga sebagai support system.

 

Kamu bisa mulai dengan mencari kelompok yang berhubungan dengan hobi atau social causes yang kamu minati. Kamu juga bisa mengikuti kursus atau berbagai workshop yang bisa kamu temui di Internet.

 

4. Regulasi Emosi

Untuk mengatasi stress dan kesepian, para perantau bisa mulai untuk belajar mengatur emosi mereka. Tujuan dari latihan ini adalah mengatur pemikiran dan perasaan untuk mencapai tujuan tertentu.

 

Dengan belajar untuk mengatur emosi, perantau juga bisa belajar untuk memonitor diri sendiri, terutama untuk hal yang terkait dengan kesehatan dan keuangan, mengatur rasa frustasi dan ketakutan, dan mencari bantuan jika stress muncul dan sulit untuk dihadapi sendiri.

 

5. Jaga Komunikasi dengan Keluarga

Perkembangan teknologi akan memudahkan komunikasi, bahkan jika jarak antara kedua individu cukup jauh. Menjaga komunikasi merupakan salah satu bentuk interaksi, dan juga menjaga bentuk dukungan sosial yang dibutuhkan untuk proses adaptasi di tempat rantau.

 

Referensi

[1] Ini Suka Duka Jadi Anak Rantau, Kamu Pasti Pernah Merasakannya. Brilio.net

[2] Let’s Get Physical. MentalHealth.org.uk. 

[3] Managing Your Money. MentalHealthAmerica.net

[4] McCloughen, A., Foster, K. Kelsey, D., Delgado, C. Turnell, A. (2016). Physical health and well-being: Experiences and perspectives of young adult mental health consumers. Int J Ment Health Nurs, 25(4), 299-307

[5] Mengapa Orang Minang Suka Merantau: Faktor Budaya, Ekonomi dan Matrilinial. Histori.id

[6] Money and Mental Health. Mind.org.uk

[7] Murray, D.W., Rosanbalm, K. (2017). Promoting Self-Regulation in Adolescents and Young Adults: A Practice Brief. . Desiree W. Murray and Katie Rosanbalm. Duke Center for Child and Family Policy for the Administration for Children and Families (ACF)

[8] Gambar: The Canadian Jewish News

Leave a Reply